Tim ilmuwan dari Danish Institute of Cancer Epidemiology di Copenhagen, Denmark, menyimpulkan tak ada bukti peggunaan telepon seluler memicu tumor dan kanker otak. Penelitian ini menganalisis riwayat kesehatan 420 ribu pengguna ponsel sejak 1982. lebih dari 56 ribu responde yang diteliti telah memaki ponsel tak kurang dari 10 tahun. Mereka tak menemukan bahwa pengguna ponsel memiliki risiko tinggi terhadap tumor di otak, mata, kelenjar ludah, atau kanker darah (leukemia).
Hasil penelitian ini dipublikasikan di Journal of International Cancer Institute. Tahun lalu, temuan serupa dikaim peneliti institute of cancer research di inggris, Sir William stewart. (Sumber: Koran Tempo, 9-12-2006).
Ternyata kontroversi tentang gelombang yang dikeluarkan ponsel sebagai pemicu kanker, masih berlanjut. Sampai saat ini masing-masing pihak pro dan kontra masih saling mengajukan bukti-bukti ilmiah untuk mengklaim pendapat mereka.
Tapi kata seorang kawan, meskipun benar ponsel dapat menyebabkan kanker otak, orang Indonesia tetap tidak akan mendapatkan kanker otak dari ponsel. Bagaimana bisa? Sebagian besar orang Indonesia kan lebih senang sms dibanding menelepon via ponsel. Jadi itu ponsel tetap jauh dari otak
Itu joke beberapa tahun yang lalu. Entah sekarang orang-orang Indonesia masih seperti itu atau tidak. Kalau saya sih, dari sejak punya ponsel pertama kali memang lebih senang menelepon dibanding sms. Simple saja alasannya, capek harus bolak-balik mengangkat ponsel dan memencet tombol-tombol ponsel yang kecil itu.
Tampak boros? Tidak apa lah, yang penting urusan cepat beres

