Computer, Science, and TechnologyDecember 5, 2006 5:22 pm

Ketika sedang iseng browsing blog-blog yang ada di lingkungan el02itb, akhirnya menemukan artikel yang ditulis abang Nico tentang distro Linux yang saat ini sedang populer, Ubuntu. Waktu baca artikelnya cukup tertarik apalagi di artikel tersebut ada screenshot desktop yang bisa dibilang cukup bagus dibandingkan distro Linux lainnya yang telah saya coba.

Akhirnya setelah bertanya sana-sini tentang kelebihan Ubuntu dengan distro yang lain, didapatkan satu poin yang cukup menarik: Ubuntu lebih ringan. Menarik karena notebook M2215AP yang saya gunakan bukan notebook yang memiliki kecepatan dan kemampuan grafis yang cukup bagus.

Singkat cerita file-iso Ubuntu didapat, di-burn, dan akhirnya tibalah saatnya untuk proses instalasi. Dengan perasaan berdebar-debar, CD mulai loading. Cukup mengejutkan juga karena ternyata CD instalasi Ubuntu ini dapat juga digunakan sebagai LiveCD, terlihat pada awal booting CD terdapat pilihan “install or start Ubuntu”. Quite impressive.

Nah, mulai saat ini lah masalah muncul. Ketika option install dipilih, layar mulai menunjukkan tulisan-tulisan proses yang sedang dilakukan. Ya standar Linux lah. Tapi ternyata tulisan-tulisan tersebut tidak muncul secara jelas, seperti tulisan yang bertumpuk. Okay, maybe just a display error. Not a big deal.

Tapi ternyata display error ini lah masalah yang paling utama. Waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke GUI memakan waktu sampai 15 menit, benar-benar menguji kesabaran. Setelah masuk, disambut dengan pesan error berkaitan dengan GNOME display or something. Sampai dengan tahap ini masih mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin memang seperti ini.

Akhirnya GUI selesai loading. Desktop menunjukkan pilihan install, langsung saja di klik. Lagi-lagi kesabaran diuji. Lampu harddisk terus menyala tanda bahwa sedang ada proses yang berlangsung. 10 menit…15 menit…30 menit. Lampu masih tetap menyala. Desktop tidak menunjukkan perubahan apapun. Okay, something not right here. Proses loading tidak mungkin memakan waktu lebih dari 30 menit. Apalagi klaim semula dari Ubuntu yang dibilang ringan.

Tombol power dipencet, matilah seluruh proses. Bersamaan dengan itu kesabaran habis dan rasa kesal muncul. What’s wrong with this thing?! Kesimpulan diambil: display atau grafis menjadi masalah utama. Tampaknya Ubuntu tidak cocok dengan hardware grafis dari M2215AP.

Setelah berkonsultasi dengan bung achai, saran pertama adalah membuat ulang CD instalasi dengan asumsi CD yang pertama rusak. Okay, CD dibuat ulang. Hasil: sama persis, tanpa ada perbaikan. Mungkin proses burn ada masalah. Coba di-burn di tempat lain, hasil: idem ditto.

Total CD yang sudah dihabiskan untuk ini adalah 3 CD-R dan 2 DVD-R ditambah lagi 2 DVD repository Ubuntu yang sudah terlanjur di-burn.

Akhirnya kembali ke kesimpulan awal, Ubuntu buntu dijalankan di M2215AP karena masalah grafis. Kesimpulan ini makin menguatkan kesimpulan tentang notebook M2215AP yang ditulis di artikel sebelumnya, bermasalah dengan kompatibilitas.

Tampaknya memang notebook ini sudah harus diganti. Tapi bagaimana mungkin, uang saja tidak punya. Ya sudah, terpaksa berpuas diri dengan yang ada sekarang.

Oya, just want to say: Good bye Ubuntu. I barely know you.

Computer, Science, and Technology 4:43 pm

Saat ini computer yang saya gunakan adalah notebook merek Compaq Presario Tipe M2215AP. Umurnya saat ini telah mencapai 1.5 tahun. Dibeli ketika pameran Indocomtech di JCC pertengahan tahun 2005. Berikut ini spesifikasinya:

  • Intel Celeron M Processor 360M2215AP
  • Intel 915GM chipset
  • 256MB DDR
  • 40GB HDD
  • DVD combo drive
  • 15" TFT
  • 64MB Intel Extreme Graphic 2 (shared)
  • 6-in-1 Digital Media reader

 

Cukup murah untuk ukuran harga notebook pada waktu itu, hanya Rp. 7.500.000,00. Tentu saja jangan dibandingkan dengan harga notebook saat ini. Kalau sekarang dengan harga segitu sudah bisa dapat notebook dengan prosesor centrino, atau bahkan sudah dual core?

Performanya sampai dengan saat ini terbilang lumayan. Kalau hanya sekedar untuk mengetik,  mendengarkan musik, atau main game masih cukup lah. Tapi lain lagi ceritanya kalau sudah harus berurusan dengan program pengolah gambar. Untungnya sampai dengan saat ini pekerjaan yang saya lakukan lebih banyak berkutat dengan mengetik, jadi masih cukup lah :D

Di usianya yang sudah mencapai 1.5 tahun, notebook ini sudah mengalami degradasi secara fisik, terutama baterai yang digunakan. Saat ini baterainya bisa dibilang tidak bisa digunakan karena hanya kuat untuk 5-10 menit. Jadi terpaksa selalu menggunakan power langsung tanpa baterai. Kalau ini mungkin karena saya yang tidak bisa merawat baterai notebook. Memang bagian yang paling sulit dipertahankan ya baterai itu. Selalu saja ada masalah.

Bahkan sebulan terakhir ini kalau notebook digunakan dengan baterai + power terpasang, malah tidak mau menyala. Entah apa yang salah. Sempat terpikir untuk membeli baterai yang baru, tetapi apa daya, dompet tidak mampu. Butuh paling tidak 1juta untuk membeli yang baru. Untungnya saya bukan orang yang terlalu mobile jadi baterai belum terlalu masalah, meski memang lebih nyaman ada baterai yang bekerja dengan baik.

Hal lain dari notebook ini yang cukup mengganggu adalah masalah kompatibilitas dengan software. Tentang ini akan dijelaskan lebih spesifik nanti. Mudah-mudahan ada waktu untuk menulisnya.

Trus, kenapa tidak ganti saja dengan yang lebih bagus kalau ternyata bermasalah? Ah, andai saja uang saya banyak tentunya sudah diganti entah sejak kapan. Tapi untuk saat ini terima saja lah keadaan. Sekalian hitung-hitung menabung untuk keperluan lain. Menikah misalnya :D

Uncategorized 7:10 am

Hello, all

Blog kedua nih. Pindahan dari yang Wordpress. Terlalu lambat untuk akses Wordpress dari tempat yang sekarang.

Well, semoga saja blog ini dapat tetap hidup.

’til we meet again.

Adios.